Latar Belakang Budidaya Kelapa Sawit Di Bondowoso
Karakter
Fisik dan Wilayah
Kondisi dataran di Kabupaten Bondowoso terdiri atas
pegunungan dan perbukitan seluas 44,4 %, 24,9 % berupa dataran tinggi
dan dataran rendah 30,7 % dari luas wilayah keseluruhan. Kabupaten
Bondowoso berada pada ketinggian antara 78-2.300 meter dpl, dengan rincian
3,27% berada pada ketinggian di bawah 100 m dpl, 49,11% berada pada ketinggian
antara 100 – 500 m dpl, 19,75% pada ketinggian antara 500 – 1.000 m dpl dan
27,87% berada pada ketinggian di atas 1.000 m dpl. Menurut klasifikasi
topografis wilayah, kelerengan Kabupaten Bondowoso bervariasi. Datar dengan
kemiringan 0-2 % seluas 190,83 km2, landai (3-15%) seluas 568,17 km2, agak
curam (16-40%) seluas 304,70 km2 dan sangat curam di atas 40% seluas 496,40
km2. Berdasarkan tinjauan geologis di Kabupaten Bondowoso terdapat 5 jenis
batuan, yaitu hasil gunung api kwarter 21,6%, hasil gunung api kwarter muda
62,8%, batuan lensit 5,6%, alluvium 8,5% dan miasem jasies sedimen 1,5%. Untuk
jenis tanahnya 96,9% bertekstur sedang yang meliputi lempung, lempung berdebu
dan lempung liat berpasir; dan 3,1% bertekstur kasar yang meliputi pasir dan
pasir berlempung. Berdasarkan tinjauan geologi, topografi, jenis tanah dan pola
pemanfaatan lahan, wilayah Kabupaten Bondowoso memiliki karakteristik sebagai
kawasan rawan terhadap terjadinya bencana alam, khususnya banjir dan longsor
1. Rawan Banjir
Permasalahan lingkungan dan sosial
yang menonjol adalah kerusakan hutan atau luasnya lahan kritis. Berbagai
kegiatan masyarakat (dengan kualitas SDM terbatas) dalam memanfaatkan lahan
(kehutanan, pertanian dan permukiman) berpengaruh besar pada kerusakan DAS
Sampean. Kawasan hutan di Kabupaten Bondowoso berada dalam pengelolaan KPH
Bondowoso dengan perincian: hutan lindung 46.784,2 ha; hutan produksi 45.218
ha; dan LDTI 366,32 Ha. Kawasan lindung yang diolah dan ditempati masyarakat
mencapai 23,0%. Sebaliknya terdapat pula hutan produksi yang berada di atas
tanah milik masyarakat. Hutan lindung dan hutan produksi yang ada relatif rawan
terhadap penjarahan oleh masyarakat. Hal ini karena adanya tekanan penduduk
yang besar yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian dengan tingkat
pendapatan yang rendah, serta sistem kelembagaan yang kurang berjalan efektif.
Sehingga masyarakat kurang peduli terhadap kelestarian hutan dan memanfaatkan
hutan sebagai lahan mata pencaharian. Kerusakan lahan yang terjadi di Kabupaten
Bondowoso (lahan kritis yang ada) mencapai luas 40.758 Ha, dengan rincian
sangat kritis seluas 4.175 Ha, kritis seluas 10.420 Ha, agak kritis seluas
11.417 Ha, dan potensial kritis seluas 9.746 Ha yang pada umumnya adalah lahan
masyarakat. Sedangkan lahan perhutani yang kritis mencapai 5.000 Ha. Adanya
lahan kritis tersebut cenderung meningkatkan erosi, yang berakibat pada meningkatnya
sedimentasi sungai, menurunkan daya tampung sungai, melampaui kapasitas sarana
prasarana irigasi yang ada, sehinga timbul kawasan-kawasan rawan luapan air
atau kawasan rawan banjir. Daerah rawan banjir mencakup 33,33% wilayah
Kabupaten Bondowoso, khususnya kawasan-kawasan yang berada di sepanjang aliran
Sungai Sampean dan Sungai Tlogo, di antaranya Kecamatan Grujugan, Bondowoso,
Tenggarang, Wonosari, Klabang, Tapen, Prajekan, Sumberwringin, Pakem,
Tegalampel, dan Tlogosari (Peta terlampir). Setiap tahun terjadi bencana banjir
(terbesar tahun 2002) yang melanda wilayah Kabupaten Bondowoso dan Situbondo
(daerah bawah DAS Sampean). Dampak seringnya terjadi banjir adalah meningkatnya
kerusakan jaringan irigasi, kerusakan prasarana jalan, kerusakan instalasi air
bersih dan rusaknya prasarana permukiman dan prasarana umum. Khusus prasarana
irigasi, kerusakan jaringan apabila tidak tertangani segera akan menurunkan
debit air irigasi dan pada akhirnya terjadi kekeringan lahan pertanian di musim
kemarau.
2. Rawan Tanah Longsor
Berdasarkan tingkat kemiringannya,
wilayah Kabupaten Bondowoso terdiri dari: kemiringan 0-2% seluas 19.083 ha
(12,23%), kemiringan 3-15% seluas 56.816,9 ha (36,42%), kemiringan 16-40%
seluas 30.470,3 ha (19,53%) dan kemiringan di atas 40% seluas 49.639,8 ha
(31,82%). Sedangkan kedalaman efektif tanah bervariasi antara 30 cm -
90 cm, dengan komposisi: 57,4% memiliki kedalamam efektif di atas
90 cm, 15,6% memiliki kedalaman efektif antara 60 cm - 90 cm,
14,7% memiliki kedalaman efektif antara 30 cm - 60 cm, dan 12,3%
memiliki kedalaman efektif di bawah 30 cm. Ketinggian dan kedalaman
efektif tanah yang bervariasi ini berpengaruh terhadap jenis, pertumbuhan dan
kerapatan vegetasi. Berdasarkan Peta Geologi Jawa dan Madura, di Kabupaten
Bondowoso terdapat 5 jenis batuan, yaitu hasil gunung api kwarter 21,6%, hasil
gunung api kwarter muda 62,8%, batuan lensit 5,6%, alluvium 8,5%, dan miasem,
jasies sedimen 1,5%. Sedangkan tanah di Kabupaten Bondowoso 96,9% bertekstur
sedang yang meliputi lempung, lempung berdebu, dan lempung liat berpasir, 3,1%
bertekstur kasar yang meliputi pasir dan pasir berlempung, dan tidak ada yang
bertekstur halus. Tingkat kemiringan dan tekstur tanah yang bervariasi ini
menjadi salah satu penyebab terjadinya erosi/longsor dan rendahnya jumlah
cadangan air. Tanah yang mudah erosi/longsor seluas 40.796,62 ha (26,15%) dapat
dijumpai di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Bondowoso, khususnya di
wilayah Kecamatan Sempol, Sumberwringin, Tlogosari, Wringin, Tegalampel,
Klabang, Pakem, Binakal, Curahdami, Grujugan dan Maesan (Peta terlampir).
Kerawanan terhadap bencana longsor disebabkan juga oleh makin luasnya lahan
kritis. Pada umumnya bencana banjir disertai oleh bencana longsor. Longsor
terjadi setiap tahun pada kawasan-kawasan perbukitan dan lereng pegunungan yang
seringkali melanda permukiman perdesaan, merusak prasarana irigasi, air bersih,
jalan dan jembatan serta lahan-lahan pertanian masyarakat.
3. Kerawanan Terhadap Bencana
Lainnya
Selain bencana banjir dan longsor
Wilayah Kabupaten Bondowoso juga rawan terhadap beberapa bencana lainnya yaitu
gempa bumi, bahaya gunung berapi dan angin puyuh. a. Gempa Bumi Adanya
aktivitas Gunung berapi (Gunung Ijen dan Gunung Raung) di sisi timur Kabupaten
Bondowoso, mengakibatkan daerah sekitarnya rawan terhadap bencana Gempa Bumi
yaitu mencakup 9,74% luas wilayah Kabupaten Bondowoso meliputi wilayah
Kecamatan Sempol dan Tlogosari (berada di lereng Gunung Ijen dan Raung). b.
Bahaya Gunung Berapi Demikian halnya dengan kerawanan terhadap bencana gunung
berapi, kondisinya sama dengan kerawanan terhadap bencana gempa bumi. Daerah
rawan bencana Gunung Berapi mencakup 9,74% luas wilayah Kabupaten Bondowoso
meliputi wilayah Kecamatan Sempol dan Tlogosari (berada di lereng Gunung Ijen
dan Raung). c. Angin Puyuh Karakteristik daerah yang dikelilingi perbukitan dan
pegunungan menyebabkan sering terjadinya angin puyuh di wilayah Bondowoso
sehingga sebagian besar wilayah (50,76%) rawan angin puyuh yaitu meliputi
wilayah Kecamatan Cermee, Wonosari, Prajekan, Wringin, Pakem, Curahdami, dan
Grujugan.
Melihat Kondisi Diatas Solusinya adalah Membudidayakan Perkebunan Kelapa Sawit secara Tumpang sari untuk mengatasi masalah Struktur Tanah di Bondowoso .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar